Bercocok tanam di Mars, emang bisa?
![]() |
Bogor, Nextstory - Dalam sebuah film yang berjudul Martian (2015) diceritakan ada seorang astronot Nasa yang terdampar diplanet Mars, penyebabnya ialah badai besar yang menerjang planet tersebut saat dia dan rekannya sedang melakukan penelitian. Akhirnya dia harus bertahan hidup disana dengan bercocok tanam di Mars. Beberapa percobaan yangg dia lakukan berhasil membuahkan hasil dan dia dapat menanam kentang serta tomat ditanah Mars.
Di dalam film fiksinya yang diadaptasi dari sebuah novel karangan Andy Weir dengan judul yang sama, Martian berhasil menanam kentang dengan bantuan bahan-bahan organik yang dijadikan pupuk kompos dari sisa-sisa makanan para astronot.
Dalam dunia nyata, untuk dapat menumbuhkan tanaman di perlukan tanah yang kaya akan unsur organik serta zat hara yang mencukupi untuk pertumbuhan. Semua itu bisa didapat dari sisa-sisa tumbuhan ataupun bangkai-bangkai makhluk hidup lainnya yang telah mati. Dari situ nantinya akan diurai sehingga dapat diserap oleh tanaman melalui akar dalam bentuk zat hara.
Berdasarkan hasil analisis, David Bish, anggota dari tim Investigasi Chemistry and Mineralogy (CheMin), menuturkan bahwasanya sampel tanah yang diambil melalui Robot Curipsity dari NASA selama beberapa minggu secara berkala, memiliki mineral yang sama dengan material basalt yang telah mengalami pelapukan seperti di bumi.
Tanah Mars juga mengandung beberapa unsur fieldpar (berupa mineral yang tersusun atas potassium dan sodium) pyroxene, serta olivine kebanyakan. Dari separuhnya terdapat material non kristal yang terbentuk dari pecahan batu seperti kaca vulkanik.
Dari karakteristik yang hampir sama tersebut membuat permukaan Mars mungkin saja dapat dijadikan sebagai lahan pertanian untuk bercocok tanam, nantinya.
Tetapi untuk dapat menumbuhkannya diperlukan penelitian lebih terkait pertumbuhan yang dipengaruhi oleh perbedaan gravitasi permukaan Mars. Melalui hasil serangkaian percobaan yang dilakukan oleh kelompok peneliti yang dipimpin Lorenzo Borghi dari Universitas Zurich dan Marcel Egli dari Universitas Lucerne, mengungkapkan bahwa gravitasi yang rendah menghambat Mikorisasi dan dengan demikian akan mengurangi serapan hara petunia terhadap tanah.
Namun para peneliti menemukan adanya hormon tanaman strigolakton yang dapat mengurangi efek dari rendahnya gravitasi di Mars. Sehingga dapat tetap merangsang pertumbuhan hifa jamur pada akar. Hifa jamur ini nantinya akan menyerap air kedalam akar, serta nitrogen, fosfat, dan unsur jejak dari tanah. Dari tanaman nantinya akan mengirimkan gula dan lemak yang akan dikonsumsi oleh hifa jamur.
Dengan adanya hormon strigolakton setidaknya para ilmuan memiliki kesempatan untuk dapat bercocok tanam di tanah Mars. Hanya perlu beberapa penelitian lagi tentang hormon ini untuk dapat mewujudkan mimpi besar itu di masa depan.(Cys)

0 Comments