Story Art "Path"
Selepas perjalanan pulang itu aku lekas langsung menuju kamarku yang berada dilantai dua, dan aku harus naik tangga. Tak urusan ada yang memanggilku atau tidak aku bergegas kekamarku, melepas sepatuku, ku tutup kamarku rapat-rapat. Kulempar tubuhku seutuhnya keatas kasurku yang hanya setebal lima tumpukan buku setebal 100 halaman, kurasa itu tidak tebal, karena rasanya lumayan sakit saat dadaku yang pertama mendarat.
Aku melelapkan mataku, merilekkan seluruh anggota tubuhku ke level terendah, menghentikan seluruh kinerja otak untuk berpikir hal-hal yang bisa kupikirkan. aku mulai mencoba memasuki fase pergantian alam bawah sadar, seakan tubuhku perlahan diringankan dan akan diangkat kelangit mimpi. Rasanya benar-benar membuatku tak ingin menggerakkan tanganku, walaupun ada nyamuk yang akan menggangguku.
"Kreeekk..."
Suara pintu jelas sedang terbuka dan tak lama pasti akan ada yang memaggilku. Aku masih cuek tak perduli, mencoba berkonsentrasi penuh untuk tidak terbangun sama sekali.
" Besok jam setengah 7 berangkat kita, ke Indrajaya" jelas aku tahu siapa suara ini. Aah, malasku menghiraukan ajakan itu.
"Kalau mau gua langsung bawa barangnya kesini iar kita langsung jalan? " pertanyaannya benar-benar membuatku malas unutk menjawabnya.
"hmm... iya..iya, ikut gua" Aku masih tertidur dengan setengah sadar menjawab itu. Tapi tak masalah juga sih, setidaknya aku besok bisa pergi-pergi.
Ok, tak ada suara lagi terdengar, sepertinya dia sudah pergi. Entah dimenit keberapa setelah percakapan tak berfaedah itu aku tak sadarkan diri. Terlelap pulasnya bahkan akupun tak sadar aku sudha tertidur. Good night.
-||-
" Oooi, banguuun... " panggilan itu jelas aku masih tahu siapa.
Dahlah, pasti urusan tadi malam yang aku setujui. Eettss... sebentar, aku masih ingat apa yang dikatakannya tadi malam? masih bisa samapai otak ternyata tadi malam. Bersyukur, tapi tetap saja aku malas untuk bangun, rasanya masih lelah saja bekas tadi malam. Ingin terus melanjutkan hibernasi panjangku.
"Cepat lah, udah jam setengah tujuh ini, telat nanti kita dimarahin bos besar" dan aku agak kaget mendengar itu. Kaget karna jamnya sudah siang, bukan karna bos besar, ya begitulah.
Sepertinya ada korsleting listrik dalam sirkuit otakku, pasalnya aku langsung bisa terbangun, menggambil kotak sabun, tak lupa handuk, lalu langsung gas menuju kamar mandi, jelasnya untuk langsung mandi. Itu kulakukan tidak kurang dari dua menit, Setengah menit untuk berjalan sampai kekamar mandi, sisanya aku baru berpikir didepan pintu kamar mandi. Ada apa dengan diriku?
Air dingin mengguyur sekujur badanku, terasa amat begitu dingin. Seperti menyengat kulit degan sensasi menthol di sampo-sampo cowo, tapi bedanya ini tak berbusa, hanya basah saja.
30 menit berlalu dan aku sudah siap untuk pergi, mobil sudah menunggu didepan pintu dengan muatan penuh dibelakangnya berisi tumpukan derigen pupuk, Lebih dari satu ton sepertinya jika bisa diitimbang.
"Bro, surat jalan udah ada?" Tanyaku memastikan dia tak meninggalkankan surat itu di tempat bos. Pasalnya jikalau surat itu tertinggal barang yang nantinya kami bawa tidak akan bisa diberikan, dan uang tidak akan turun, dan pasti bos besar akan marah, sudah jelas.
"Iye ini udah ada tenang aja, tinggal jalan aja ini"
Bersyukur aku dia sudah membawa suratnya langsung, itu artinya kita tak harus ketempat bos dulu unutk mengambilnya. Maka cocoklah untuk kita tinggal jalan menuju Indrajaya.
" Indrajaya, kami datang " ujarku untuk sekedar melontarkan semangat pagi mengawali pemberangkatan ini, dan pastinya sudah didahului dengan bacaan.
Bismillah .
-||-
Perjalanan kami mulai dari keluar menuju gerbang Tol Bogor, selanjutnya yang aku ingat bahwa kami sudah memasuki Tol Cikampek.
" Ini nanti kita mau lewat atas atau bawah jalannya?" Tanya dia tiba-tiba membuatku sedikit terdiam
" Maksudnya gimana?' Mintaku penjelasan padanya. Aku pun masih belum paham betul, tanpa ada kalimat pembuka dia langsung bertanya begitu.
Dia memelankan mobilnya yang sedang ia bawa. Ya, dia yang bawa, aku hanya menemani dia saja, aku tidak bisa, atau tepatnya belum bisa mengendarai mobil, belum. " ini kan ada tol layang cikampek, gua belum pernah lewat situ. Kalo mau kita lewat atas "
Aku baru teringat di tol ini ada Tol Layang Cikampek yang memang akupun belum pernah mencobanya. Sering melihatnya aku dari bawah kalau aku sedang naik bis untuk pulang maupun berangkat. Jalan layang itu juga hanya bisa dilalui oleh mobil kecil beroda empat, tidak lebih dari itu.
Kalau dari bawah, bayangan lewat tol layang itu benar-benar belum tergambarkan, jadi tak salah juga kan aku ingin lewat sana. Ini kesempatan besar yang tidak dua kali bisa terjadi, aku harus bisa memanfaatkannya sebaik-baiknya.
1. Jalan Tol Cikampek yang baru ternyata mengejutkan sekali. Disana terdapat banyak sekali jalan sambungan yang membuatnya tidak rata, itu membuat jalannya mebjadi bergelombang.
2. Sudah memasuki kawasan Indrajaya, hampir sampai ditempat tujuan, tanpa tahu kenapa tiba-tiba seperti ada suara gesekan besi dan aspal pada bagian belakang mobil. Ternyata peer mobil bagian kanan patah, kami menduga-duga akibat jalan yang rusak, ya memang karna banyak jalan berlubang dan tidaj rata di indrajaya ini.
3. Selesai menurunkan barang kiriman, kami langsung pergi berniat untuk mengambil barang angkutan selanjutnya. Baru berjalan 200 meter tragedi terjadi lagi, mobil kami mogok secara misterius.
4. Peer yang sudah kami las setelah kami mengambil barang terahkir, ternyata lepas kembali. Tukang lasnya kurang bener nih masangny. Akhirnya kami paksakan dari awal jalan hingga sampai bogor. Dan langsung kami Sampaikan semua kejadian hari ini kepada bos besar.
5. Dan ini yeng terakhir, kami lupa untuk membawa charger hp ataupun powerbank. Karna kukira kita hanya akan pulang pergi dan baterai hp kami cukup hingga kembali lagi. Tetapi nyatanya kami tidak siap dengan kemungkinan terburuk.
Its a good day, tapi sedikit melelahkan saja.

0 Comments