Bagian Kedua 'Kata Maaf'
“Kata ‘maaf’ biasanya digunakan untuk mengungkap rasa bersalah yang
begitu dalam.”
Menjadi manusia yang seutuhnya bisa didapatkan setiap insan
dengan menerapkan prinsip-prinsip kemanusiaan. Yang menjadikan seorang manusia
bisa disebut sebagai manusia, yang menjadikan seorang manusia bisa dijadikan
manusia seperti seharusnya. Dengan begitu setiap laku dan tindak yang dilakukan
selalu berdasar rasa dan karsa kemanusiaan.
Manusia yang seutuhnya tidak mesti harus menjadi insani yang
bersifat sebagai sebuah individu. Tetapi manusia yang utuh ialah ia yang
menjadikan kemanusiaan sebagai sebuah sifat sosial dengan manusia yang lainnya.
Dengan interaksi yang timbul dalam kegiatan sosial bermanusia akan menjadikan
insan tersebut menjadi manusia yang manusia. Tetapi tetap dengan memiliki
sifat-sifat keindividuannya.
Namun, bagaimana bisa tetap menjadikan sifat dasar manusia
yang dinyatakan sebagaimana sebuah individu, harus disandingkan untuk dapat
memunculkan sifat alamiahnya sebagai makhluk sosial. Bukankah dengan demikian
akan saling bertolak belakang ketika kedua materi yang saling berbeda
didekatkan dan disatukan dalam satu wadah. Mungkin tetap dapat menyesuaikan
tetapi akan sulit untuk dapat menyatukannya.
Ketika terjadi sebuah gesekan antara dua sifat manusia yang betolak
belakang, tidak mungkin itu akan memunculkan percikan akibat gesekan tersebut.
Perlu adanya tindakan khusus untuk meredam gesekan tersebut agar tidak
menggesek kembali dan mengikir lempengan-lempengan sifat tersebut. Dengan
beberapa Effort lebih dari biasanya
akan sangat diperlukan.
Tetapi sebelum mencari solusi tersebut, akan lebih baik
untuk mencegahnya bukan. Mencegah hal-hal yang sebenarnya bisa dihindari agar
tidak terjadi gesekan tersebut. Meminimalisir percikan-percikan yang terulang
kembali karena tidak dapat mencegah hal-hal yang dapat menyebabkannya menjadi
semakin terkikis habis. Dengan mempelajari tanda-tanda ketika akan terjadinya
gesekan, meminimalisir sifat-sifat ataupun tindakan yang bertolak belakang
dengan kubu lempengan, mengikuti alur putar lempengan satunya agar searah,
serta tindakan kecil lainnya yang mungkin saja akan berpengrauh besar pada
porosnya.
“Selalu ada pilihan ketika roda masih terus berputar. Akan mengikuti
arah roda yang lain, ataukah akan mencari arahnya sendiri”
Mengawali sebuah paham yang menjadikan kita mengerti satu kata penting. Bahwa kata “Maaf” tidak selalu untuk dapat
memaafkan. Tidak selalu kata tersebut menjadikan seorang lupa akan kesalahan yang telah
berlalu. Tidak menjadikan tindakan salah tersebut tidak terulang kembali
dikemudian hari. Dan tidak ada yang menjamin sedikitpun bahwasanya kata
tersebut adalah sebuah penyesalan terdalam dari hati seseorang.
Menjaga kata maaf untuk tetap menjadi maaf yang satu-satunya dan terakhir kali terucap sangatlah sulit. Itu lebih sulit dari sekadar mencoba meminta maaf kepada seseorang. Bahkan untuk hal besar sekalipun, kata maaf akan selalu dapat kembali kepada yang memaafkan. Maaf akan jadi jalan pelurus tatkala ditengah jalan mengalami kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja.
Tapi, apa yang terjadi jika kata maaf hanya digunakan hanya sebagai sekadar kata. Bukan sebagai permintaan dari hati yang tak ingin mengulang. Sekadar menyelesaikan persoalaan sekejap tanpa memikirkan kebaikan dikedepannya. Seperti 'yang penting bisa lolos dulu dari masalah ini, masalah nanti terulang kembali ya tinggal minta maaf lagi'. Bukankah hal itu sangat mudah sekali untuk dilakukan.
Bagi orang yang berada diposisi untuk dimintai maaf mungkin akan sangat pemaaf untuk dapat memaafkan kesalahan seseorang. Beberapa beranggapaan serta berharap dengan memaafkan tersebut akan dapat mengubah pribadinya menjadi lebih baik. Menjadi pintu baru untuk tidak mengulang.
Namun, ketika maaf yang berulang terus terjadi dan tetap pada kesalahan yang sama. Akan sangat menyakitkan bagi pihak yang telah memberinya maaf. Seakan tindakan memaafkannya adalah tindakan yang kurang tepat. Tidak menjadikannya individu yang dapata melihat kesalahan pada dirinya, sekelilingnya, serta hal-hal yang dapat menyebabkan hal tersebut terjadi kembali, kembali dan terulang lagi.
Betapa hebatnya manusia yang dapat memberi maaf berulang kali kepada orang yang sama dengan kesalahan yang sama. Seakan hatinya begitu lapang untuk dapat membangun kembali ratusan kata maaf yang diberikan. Memberikanya dengan senang hati, mengasihaninya dengan rasa dan harapan itu tak akan kembali lagi. Entah apa yang menyebabkannya begitu kuat menerima kesalahan-kesalahan yang sama dengan orang yang sama.
"Untuk dapat memadamkam api yang besar tidak bisa kita juga menjadi api yang lebih besar"
Selalu ada seribu kesabaran untuk untuk manusia-manusia yang telah terbentuk menjadi individu yang kokoh menerima kesalahan-kesalahan dan kata maaf berulang. Namun perlu pelajaran lebih yang harus diberikan kepada pihak yang terus menerus menjadikan kata itu hanya sekadar kata. Tanpa makna yang sebenarnya dari dalam kata itu, maka setiap kali terucap hanya akan terucap dan berlalu. Pahami dan pelajari, gunakan hati dan pikiran untuk dapat benar-benar dapat mencerna kebaikan orang lain.
Kata Kunci : Hati, Maaf, Terulang
"Sebuah rekapan masa dibalik rasa"
0 Comments