BAB III HIDUP SELARAS DENGAN ALAM
"in according with Nature"
Dalam kontes nature dari manusia, Stoisisme menenkankan nala, akal sehat, rasio dan kemampuan menggunkan kebajikan (life of virtues) yang membedakannya dengn binatang dan menjadikannya makhluk bernalar. Selaras dengan alam berarti menggunakan nalar dan rasionya sebaik-baiknya sebagai manusia.
"it does not matter where it came from"
Stoisisme lebih menekankan bahwa rasionalitas adalah fitur yang unik dari manusia. Karena:
1. jika kita ingin hidup bahagia, bebas dari emosi negatif maka kita "harus hidup selaras dengan alam".
2. Alam memberikan manusia rasionalitassebagai fitur unik yang membedakannya dengan binatang.
3. "Hidup selaras dengan Alam" untuk manusia artinya kita harus menggunakan nalar. Saat kita tidak menggunakannya, praktis kita tidak berbeda dengan binatang.
4. Ketika kita tidak dapat menggunakan nalar kita, kita akan rentan tidak bahagia, karena kita tidak lagi selaras dengan alam.
Dalam dunia Sains modern terdapat The Butterfly Effect (Efek Kupu-kupu) didalam Chaos Theory. Menurut sains, dalam sebuah sistem nonlinear (seperti cuaca), perubahan kecil diwaktu yang tepat bisa menyebabkan reaksi berantai yang berujung pada perubahan yang sangat besar.
Intisari Bab 3:
1. Manusia harus hidup selaras denganalam jika ingin hidup yang lebih baik.
2. Kelar dari keselarasan dengan alam adalah pangkat tidak ketidakbahagiaan.
3. Hidup selaras dengan alam artinya kita harus sebak-baiknya menggunakan nalar,akal sehat, rasio, karena itulah yang membedakan manusia dan binatang.
4. Filosofi Teras percaya bahwa segala sesuatu di alam ini saling terkait (Interconnected), termasuk didalamnya segala peristiwa yang terjadi didalam hidup kita.
5. Melawan atau mengingkari apapun yang telah terjadi artinya keluar dari keselarasan dengan alam.
Kata Kunci: Bahagia, Butterfly, Selaras.
Sumber resensi : Buku " Filosofi Teras" karya Henry Manampiring
0 Comments