BAB V MENGENDALIKAN INTERPREASI DAN PERSEPI

by - Januari 01, 2022

 "It is not things that trouble us, but our judgment about things" -Epictetus


Sumber segala kekhawatiran kita ada di dalam pikiran kita, dan bukan hal atau peristiwa yang ada diluar kita.


"... Pada dasarnya semua emosi dipicu oleh penilaian, opini, persepsi kita.Keduanya saling terkait, dan jika ada emosi negatif, sebernya ya nalar/rasio kita sendiri."


Kekuatan pertimbangan dan persepsi

Jika kamu merasa susah karena hal eksternal, maka perasaan susah itu tidak datang dari hal tersebut, tetapi oleh pikiran/persepsimu sendiri. Dan kamu memiliki kekuatan untuk mengubah pikiran dan persepsimu kapanpun juga.

Inilah yang dimaksudkan dalam Stoisisme bahwa kebahagiaan sejati datang dari hal yang bisa dikendalikan, yaitu pikiran, persepsi, dan pertimbangan kita sendiri. Kebahagiaan tidak perlu bergantung pada hal-hal eksternal.


Melawan interpretasi otomatis

"Jangan katakanpada dirimu sendiri lebih dari impresi awal yang kamu dapatkan. kamu mendapatkan bahwa seseorangberkata yang jelek tentang kamu. Ya, hanya ini kabarnya. Kabarnya tidak berkata bahwa kamu sudah dilukai/dicelakakan (Harmed). Saya melihat putra saya sakit-- Tapi tidak sedang ternacam jiwanya. Karenanya tetaplah fokuspada impresi pertama (fakta objektif), dan janganlah ditambah-tambahkan lagi dikepalamu. Maka sesungguhnya tidak ada yang benar-benar bisa terjadi dikepalamu" -Marcus Aurelius.


Peristiwa (impression)  -->  Interpretasi otomatis  -->   Emosi (Negatif) 

Dalam filosofi Teras, Respesentation atau interpretasi kita akan sebuah peristiwa tidak harus terjadi secara spontan tanpa "diperiksa" (Examined). Jika mau, sesungguhnya kita mampu memeriksa sebuah peristiwa dan kemudian memutuskan makna apa yang akan kita berikan.  


S-T-A-R (Stop, Think & Assess, Respond)


STOP (Berhenti)

Begitu kita merasakan emosi negatif, secara sadar kita harus berhenti dulu. Janganterus larut dalamperasaan tersebut. Anggap saja kita berteriak "Time Out".


THINK & ASSESS (Dipikirkan dan Dinilai)

Sesudah menghentikan proses emosi sejenak, kita bisa aktif berpikir. Memaksakan diri untuk berpikir secara rasionalsaja sesudah mampu mengalikan kita dari kebablasan menuruti emosi. Kemudian mulailan menilai (Assess), Apakah perasaan ini benar atau tidak? pakah kita sudah memisahkan fakta objektif dari interpretasi/ Value Jugdement kita sendiri? Pakah emosi saya ini terjadi "karena sesuatu yang didalam kendali saya atau diluar kendali saya?".


RESPOND (Merespon)

Sesudah kita menggunakan nalar, berupaya untuk rasional dan mengamati situasi, dan semoga saat ini, emosi sudah sedikit turun, barulah kita memikirkan respon apa yang akan kita berikan. Respon bisa berupa ucapan ataupun tindakanyang diharapkan adalah hasil penggunaan nalar/rasio yang sebaik-baiknya, dengan prinsip bijak, adil (Fair), Menahan diri (tidak terbawa Perasaan/Emosian) dan Berani (Courage).


"Sudah saatnya kamu menyadari bahwa kamu memiliki sesuatu didalam diri kamu yang lebih kuat dan ajaib daripada hal-hal yang memengaruhimu layaknya sebuah boneka"  -Marcus Aurelius


"Jagalah senantiasa persepsimu,karena ia bukan hal yang sepele,tetapi merupakankehormatan, kepercayaan, ketekunan, kedamaian, kebebasan, dari rasa sakit dan ketakutan--dengan kata lain,kemerdekaanmu" -Epistetus


"Sudah saatnya kamu menyadari bahwa kamu memiliki sesuatu didalam dirimu yang lebih kuat dan ajaib daripada hal-hal yang memengaruhimu layaknya sebuah boneka" -Marcus Aurelius.


"Ditingkat Ekstrem rasa berhak/Entitlement adalah sifat narsis yang sangat merusak, menempatkan orang pada risiko frustasi, tidak bahagia, dan kecewa akan hidup. Seringkali, hidup, kesehatan, bertambahnya usia, dan kehidupan sosial tidak memperlakukan kita seperti yang kita inginkan"


Melawan Lebay

"Pada saatnya kamu akan melupakan segalanya. Dan akan ada saatnya semua orang akan melupakanmu. Selalu renungkan bahwa akhirnya kamu tidak akan menjadi siapa-siapa, dan lenyap dari bumi"


1. Tidak ada yang baru didunia ini

2. Perspektif dari atas (View from above)

3. Semua akan terlupakan.


Kultus Individu

Kita tidak seharusnya menggantungkan kebahagiaan pada kekayaan dan popularitas kita sendiri, apalagi pada reputasi oranglain. Pilihan-pilihan oranglain tidak berada di bawah kendali kita, karenanya kita harus selalu siap menghadapi ketika orang yang kita idolakan ternyata mengecewakan kita.


The Inner Citadel (Benteng didalam diri)

"Pikiran yang tidak diganggu oleh emosi berkecamuk adalah sebuah benteng, tempat berlindung terkokoh bagi manusia untuk berteduh dan berlindung." -Marcus Aurelius


"You have power over your mind. Not outside events. Realize this, and you will find strenght"- Marcus Aurelius


Intisari Bab 5:

  1. Manusia kerap kali disusahkan buka oleh hal-hal atau peristiwa, tetapi oleh opini, interpretasi, penilaian/value judgment akan hal-hal atau peristiwa tersebut.
  2. Filosofi Teras tidak memisahkan antara "emosi" dan nalar/rasio". Emosi (Negatif) dianggap sebagai akibat dari nalar/rasio yang keliru.
  3. Saat kita mengalami peristiwa hidup, seringkali ada penilaian otomatis yang muncul dan jika tidak rasional, maka penilaianotomatis ini memicu emosi negatif.
  4. Kita memiliki kemmapuan untuk tidak menuruti penilaian/Value Judgment otomatis tersebut. Kita mampu untuk menganalisis sebuah peritiwa/objek dengan rasional, khususnya untuk memisahkan antara fakta objektif dari penilaian/opini subjektif kita.
  5. langkah-langkah yang bisa kita lakukan dengan S-T-A-R (Stop-Think & Assess, Respond)
  6. Kita juga bisa mengendalikan respon lebay terhadap segala hal dengan mengingat betapa remehnya masalah kita jika dilihat dari jauh, bahwa tidak ada yang sungguh-sungguh baridi kehidupan manusia, dan pada akhirnya semuaakan terlupakan oleh waktu.


Kata kunci : Interpretasi, Mengingat, Pikiran  
Sumber resensi : Buku "Filosofi Teras" karya Henry Manampiring


You May Also Like

0 Comments

featured posts