BAB VIII MENGHADAPI KESUSAHAN DAN MUSIBAH

by - Januari 02, 2022

 Salah satu aplikasi Stoisisme adalah bagaimana harus bersikap dan bertindak dalam kesusahan, musibah, dan bencana.

There is nothing either good or bad, but thingking makes it so”-


 

Filosofi teras mengajarkan kita unyuk menginterpretasi peristiwa negatef sebagai ujian, kesempatan, untuk menjadi lebih baik.

Constant misfortune brings thisone blessing: Those whom it always assail. It eventually fortifies”- Seneca

Melawan pola pikir destruktif

Pola pikir 3P yang menghambat kita pulih dari musibah:

o   Personalization. Menjadikan musibah sebagai kesalahan pribadi.

o   Pervasiveness. Menganggap musibah di suatu aspek hidup sebagai musibah diseluruh aspek hidup.

o   Permanence. Keyakinan bahwa akibat dari sebuah musibah/kesulitan akan dirasakan terus menerus.

 

Menerima Penderitaan

Why it so hard when things go against you? If it isimposed by nature, accept glady. If not, work out what your own nature requires, even if it brings you no glory”

 

Menang dan bertahan

Dalam pertandingan suci banyak yang meraih kemenangandengan cara membuat lawan mereka lelah. Dengan sikap bertahan yang keras kepala. Bayangkan seseorang Stoa semacam Atlit seperti itu yang melalui latihan panjang dan tekun akhirnya memiliki kekuatan untuk bertahan menerima serangan dan akhirnya melelahkan lawan.

 

Latihan Menderita

Premeditatio malorum melatih kita untuk memikirkan skenario-skenario buruk yang mungkin terjadi hari ini.

“Jika kamu ingin seseorang tak goyah saat krisis menghantam maka latihlah ia sebelum krisis itu datang”-Seneca

 

Halangan adalah jalan

Karena kita bisa menerima dan menyesuaikan diri. Pikiran kita bisa beradaptasi dan bisa mengubah halangan agar justru mendukung tujuan. Halangan terhadap tindakan kita justru memajukan tindakan kita. Apa yang mendalangi kita menjadi jalan itu sendiri.

 

Intisari Bab 8:

·        Dalam filosofi teras, ‘musibah’ dan ‘kesusahan’ adalah opini / value judgement yang ditambahkan oleh kita sendiri.

·        Walaupun musibah, bencana, dan kesusahan yang meninpa seringkali berada diluar kendali kita, respon kita atasnya sepenuhnya ada ditangan kita sendiri.

·        Filsuf stoa melihat kesusahan sebagai kesempatan melatih Virtue/arête/kebajikan kita. Saat kita tertimpa kesusahan,kita bisa memikirkan virtue yang bisa dilatih oleh keadaan ini.

·        Saat tertimpa musibah dan kesusahan waspadai pola pikir 3P yang merusak.

·        Kita bisa mengalahkan cobaan dan penderitaan dengan bertahan menanggungnya (Endure), bagaikan atlet  di pertandingan yang dengan keras kepala  membuat lelah lawannya.

·        Latihan menderita selain membantu kita menghadapi kesusahan yang sebenarnya, juga bisa membuat kita kembali mensyukuri apa yang sudah kita miliki.

·        Halangan bisa menjadi jalan. Dan ini tergantung kepada pikiran kita.



Kata Kunci : Musibah, Respon, Virtue

Sumber resensi : Buku "Filosofi Teras" karya Henry Manampiring

You May Also Like

0 Comments

featured posts