BAB VIII MENGHADAPI KESUSAHAN DAN MUSIBAH
Salah satu aplikasi Stoisisme adalah bagaimana harus bersikap dan bertindak dalam kesusahan, musibah, dan bencana.
“There is nothing either good or bad, but
thingking makes it so”-
Filosofi teras mengajarkan kita unyuk
menginterpretasi peristiwa negatef sebagai ujian, kesempatan, untuk menjadi
lebih baik.
“Constant misfortune brings thisone blessing:
Those whom it always assail. It eventually fortifies”- Seneca
Melawan
pola pikir destruktif
Pola pikir 3P yang menghambat kita pulih
dari musibah:
o
Personalization.
Menjadikan musibah sebagai kesalahan pribadi.
o
Pervasiveness.
Menganggap musibah di suatu aspek hidup sebagai musibah diseluruh aspek hidup.
o
Permanence.
Keyakinan bahwa akibat dari sebuah musibah/kesulitan akan dirasakan terus
menerus.
Menerima
Penderitaan
“Why it so hard when things go against you? If
it isimposed by nature, accept glady. If not, work out what your own nature
requires, even if it brings you no glory”
Menang
dan bertahan
Dalam pertandingan suci banyak yang meraih
kemenangandengan cara membuat lawan mereka lelah. Dengan sikap bertahan yang
keras kepala. Bayangkan seseorang Stoa semacam Atlit seperti itu yang melalui
latihan panjang dan tekun akhirnya memiliki kekuatan untuk bertahan menerima
serangan dan akhirnya melelahkan lawan.
Latihan
Menderita
Premeditatio
malorum melatih kita untuk memikirkan skenario-skenario buruk yang mungkin
terjadi hari ini.
“Jika kamu ingin seseorang tak goyah saat
krisis menghantam maka latihlah ia sebelum krisis itu datang”-Seneca
Halangan
adalah jalan
Karena kita bisa menerima dan menyesuaikan
diri. Pikiran kita bisa beradaptasi dan bisa mengubah halangan agar justru
mendukung tujuan. Halangan terhadap tindakan kita justru memajukan tindakan
kita. Apa yang mendalangi kita menjadi jalan itu sendiri.
Intisari
Bab 8:
·
Dalam filosofi teras, ‘musibah’ dan ‘kesusahan’
adalah opini / value judgement yang ditambahkan oleh kita sendiri.
·
Walaupun musibah, bencana, dan kesusahan yang
meninpa seringkali berada diluar kendali kita, respon kita atasnya sepenuhnya
ada ditangan kita sendiri.
·
Filsuf stoa melihat kesusahan sebagai kesempatan
melatih Virtue/arête/kebajikan kita. Saat kita tertimpa kesusahan,kita bisa
memikirkan virtue yang bisa dilatih oleh keadaan ini.
·
Saat tertimpa musibah dan kesusahan waspadai
pola pikir 3P yang merusak.
·
Kita bisa mengalahkan cobaan dan penderitaan
dengan bertahan menanggungnya (Endure), bagaikan atlet di pertandingan yang dengan keras kepala membuat lelah lawannya.
·
Latihan menderita selain membantu kita
menghadapi kesusahan yang sebenarnya, juga bisa membuat kita kembali mensyukuri
apa yang sudah kita miliki.
·
Halangan bisa menjadi jalan. Dan ini tergantung
kepada pikiran kita.
Kata Kunci : Musibah, Respon, Virtue
Sumber resensi : Buku "Filosofi Teras" karya Henry Manampiring
0 Comments